Artikel Menjadi Manusia Optimis
Menjadi Manusia Optimis

Menjadi Manusia Optimis

Salah satu aspek yang dapat menentukan jalannya hidup dan kehidupan kita ialah optimisme. Yang dimaksudkan dengan optimisme dalam hubungan ini adalah bahwa apa yang akan kita kerjakan perlu diyakini akan mencapai hasil.

Kalau tidak memiliki keyakinan seperti ini, lebih-lebih kalau yang akan kita kerjakan bukan pekerjaan ringan (akan dihadang berbagai macam hambatan), maka tentu keinginan, kegairahan, dan semangat kita untuk mengerjakannya tidak akan sepenuh hati.

Apabila kita dihinggapi keadaan yang demikian, dapat dibayangkan akan gagalnya usaha kita itu. Sebab meskipun kita yakin akan berhasil dan untuk mencapainya telah dilakukan dengan bersungguh-sungguh, usaha kita tetap belum tentu berhasil karena masih bergantung pada inayah Allah. Apalagi kalau sejak semula kita sudah dihinggapi keyakinan dan kemauan yang setengah-setengah.

Dalam firman Allah Swt dalam Alquran, surat Al-Baqarah ayat 197 telah diingatkan : Watazawwadu fainna khairazzadi at-taqwa (Berbekallah, sesungguhnya bekal yang paling ampuh ialah takwa).

Apa artinya ini? Artinya ialah, janganlah kita mengerjakan atau berupaya mencapai sesuatu tanpa bekal takwa. Sedangkan takwa sendiri antara lain bercirikan bahwa seseorang hendaklah senantiasa memiliki keyakinan (optimisme) akan mencapai hasil dari semua jerih payahnya.

Apa artinya ini? Artinya ialah, janganlah kita mengerjakan atau berupaya mencapai sesuatu tanpa bekal takwa. Sedangkan takwa sendiri antara lain bercirikan bahwa seseorang hendaklah senantiasa memiliki keyakinan (optimisme) akan mencapai hasil dari semua jerih payahnya.

Mereka memiliki rasa optimisme karena mereka yakin usahanya akan berhasil mengingat apa yang dikerjakan adalah yang hak (yang benar, bermanfaat baik terhadap dirinya maupun terhadap sesamanya).

Ciri lain ialah bahwa dalam mengerjakan sesuatu yang hak dan halal tersebut diperlukan kesabaran (ketabahan). Sebagaimana diketahui, tiada satu pun pekerjaan — betapapun kecilnya — yang luput dari hambatan.

Maka di sinilah seorang manusia harus sadar bahwa setiap hambatan yang akan dihadapi, harus dihadapi dengan tabah. Arti tabah di sini bukanlah lalu menyerah karena menghadapi hambatan, tetapi harus ia teruskan usahanya sampai berhasil.

Ia harus memiliki tekad yang bulat bahwa hambatan apa pun yang dihadapi, Insya Allah akan dapat diatasinya. Tetapi syaratnya ialah itu dikerjakan dengan tabah dan terlebih dahulu diyakini akan dapat berhasil. Sebab tanpa berbekal dengan keyakinan (optimisme) tersebut, tidak akan ada dorongan baginya untuk bekerja keras guna mengatasinya.

Oleh karena itu, sungguh ampuh peringatan Allah yang disebutkan tadi, karena hanya dengan berpegang kepada peringatan Allah tersebut seseorang akan dapat berhasil dalam pekerjaannya (perjuangannya).

Hal ini sesuai pula dengan firman Allah di dalam Alquran, surat Ar Ra’d, ayat 11: Tuhan tidak mengubah nasib sesuatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.

sumber: http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/08/12/03/17851-keyakinan

Posting : 09/13/2020